Selasa, 31 Maret 2009

Cara Penyebaran Islam di Nusantara

1. Cara Perdagangan
Perdagangan memegang peranan penting Karena Islam mulai diperkenalkan melalui sejumlah Bandar penting. Perdagangan itu pula yang memungkinkan penyebaran Islam meluas di Indonesia, berawal dari pesisir pantai sampai ke pedalaman. Pengenalan nilai dan ajaran Islam oleh pedagang muslim mancanegara dimungkinkan oleh kesempatan menetap cukup lama dan juga oleh sikap terbuka masyarakat Indonesia terhadap hal-hal yang baru dan positif. Itulah sebabnya pedagang muslim mancanegara diperkenankan mendirikan pemukiman beserta tempat ibadah.
2. Cara Sosial (Perkawinan)
Bagi masyarakat pribumi, pedagang muslim mancanegara dianggap sebagai kalangan terpandang, baik kekayaan maupun pengetahuannya. Kedudukan itu menarik kalangan penguasa pribumi untuk menikahkan anak gadisnya dengan para pedagang itu, sebelum menikah sang gadis menjadi muslim lebih dahulu. Perkawinan dapat pula terjadi antara wanita muslim dengan kalangan pribumi, yang akhirnya perkawinan tersebut membentuk keluarga muslim berkembang, inilah yang kemudian hari merintis terbentuknya kerajaan Islam.
Perkawinan secara muslim di kalangan terpandang memperlancar penyebaran pengaruh Islam, seperti perkawinan Raden Rahmat (Sunan Ampel) dengan Nyai Manila, Sunan Gunung Jati dengan puteri Kawungaten dan Brawijaya denga puteri Jeumpa yang kemudian menurunkan Raden Patah.
3. Cara Pengajaran (Pendidikan)
Pengenalan dan penyebaran ajaran dan nilai-nilai Islam melalui pendidikan dilakukan saat terbentuknya masyarakat muslim. Pendidikan diselenggarakan oleh para guru agama, kyai dan ulama. Mereka mendirikan pondok-pondok pesantren untuk mendidik para santri.
Karena terbuka untuk umum, banyak anak-anak dan remaja dari berbagai kalangan tertarik menjadi santri. Dan setelah mereka kembali ke kampong halamannya, para santri itu berdakwah mengajarkan Islam. Tindakan itulah yang turut memperluas pengaruh Islam ke penjuru Nusantara. Tokoh Islam yang mendirikan pesantren antara lain, Raden Rahmat di Ampel, Raden Paku di Giri dan yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar